Wednesday, 5 September 2018

*KETIKA SUDAH TIDAK BISA LAGI MEMBEDAKAN MANA HALAL MANA HARAM*

📚 *Mutiara Hadits 552* 📚

*KETIKA SUDAH TIDAK BISA LAGI MEMBEDAKAN MANA HALAL MANA HARAM*

Mendekati akhir zaman memang tidak mudah orang mempertahankan ke imanan nya, ujian cobaan begitu dasyatnya sehingga pada akhirnya banyak orang yang menghalalkan segala cara, mereka sudah tidak peduli mana yang halal mana yang haram.
Mulai dari makanan sampai kepada cara memperoleh rejeki pun banyak kandungan dan cara cara haram yang kalau kita tak paham akan terjebak dalam fenomena itu.

Lihat saja prinsip ekonomi kapitalis dengan slogan “modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya” masih diemban oleh negeri ini. Wajar jika lahir manusia-manusia serakah, termasuk para produsen nakal, yang cenderung mengutamakan keuntungan tanpa peduli halal-haram maupun manfaat-mudharat.
Realita ini sudah di prediksi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui sabda beliau.

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”
(HR Bukhari).

Padahal Allah Ta'ala sudah memperingatkan agar setiap individu juga keluarga untuk berusaha mencari dan mengkomsumsi sesuatu yang jelas halalnya baik secara zat maupun perolehannya.
Allah Ta'ala, berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِى الْأَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۚ  إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Terkadang sesuatu yang ragu ragu mestinya harus ditinggalkan, tetapi malah dijadikan ajang perdebatan karena ada muatan politik dan ekonomi yang menjanjikan, padahal sesuatu yang ragu ragu atau samar adalah cenderung kepada yang haram.
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Memang ada banyak hal baru yang tidak ditemui pada zaman Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam  dan para sahabat. Selintas tidak ada dalil hukum yang menerangkan bidang-bidang tersebut. Boleh jadi, kita menganggapnya halal, namun setelah diselidiki, ternyata statusnya haram. Begitu pun sebaliknya. Bagi sebagian orang, masalah ini sangat membingungkan atau setidaknya menimbulkan keragu-raguan.
Sebenarnya, agama kita telah menetapkan aturan sangat jelas tentang masalah halal haram ini. Keduanya termasuk unsur fundamental dalam Islam..

Dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)

Lihatlah begitu bahayanya mengonsumsi makanan haram dan dampak dari pekerjaan yang tidak halal sehingga akan mempengaruhi do’a yang sulit dikabulkan, kesehatan, amalan kebaikan, dan terakhir, mendapatkan siksaan di akhirat dari daging yang berasal dari yang haram..
Wallahu a'lam
Di Kutip Dari Grup WA #HasmiBandung#
Share This To Your Friends

Related

0 Komentar